Elektrojoss

July 2, 2008

ANALISIS EKONOMI Wajah Baru “Pedagang” Minyak

Filed under: News — elektrojoss @ 11:54 am

Kalau kami produksi minyak lebih banyak lagi, tidak ada yang membeli,?
kata Raja Abdullah saat menutup KTT produsen-konsumen minyak. Semua
pemimpin dunia pusing mencari solusi menahan laju harga. Kaya minyak,
kok, tak berdaya? Di sini, selain disambut amarah rakyat, pemerintah
juga disambut ?hak angket?. Sementara itu, yang tak punya minyak
menari-nari dengan perdagangan dan spekulasi.

Ketidakberdayaan ini tak dapat diatasi dengan kecurigaan dan bermabuk
wacana, apalagi dengan jalan pintas. Banyak hal telah berubah dan kita
harus berlari lebih kencang lagi. Namun, ada yang sudah berubah, tetapi
miskin pengakuan sehingga memicu frustrasi.

Menari di atas bara api

Ibarat menari di atas bara api dengan genderang ditabuh orang lain,
Indonesia jelas menderita. Dulu, genderang itu ditabuh International Oil
Company (IOC, perusahaan swasta, seperti Exxon Mobil, Chevron, dan
Shell) yang bekerja sama dengan National Oil Company (NOC, milik negara,
seperti Saudi Aramco, Petronas, Petrobras, Statoil, PDVSA Venezuela, dan
Pertamina). Namun, sejak menjadi net importer, kita cuma menjadi penari,
sedangkan genderangnya berpindah ke pengendali keuangan di bursa
komoditas.

Kongres Amerika mengungkapkan, investasi terbesar belakangan ini
berbentuk ?paper? di bidang energi. Porsinya bergeser dari 4,6 persen
(2003) menjadi 30,7 persen (2005), dan sekarang di atas 50 persen
(NYMEX, 2006). Menurut The New York Times, keuntungan minyak sebesar 1,5
miliar dollar AS yang dinikmati Goldman Sachs dan Morgan Stanley (2005)
menimbulkan efek domino panjang.

Stok minyak (juga kekayaan) telah beralih dari NOC-IOC kepada para
trader dan pelaku sektor keuangan yang tidak punya sumur, fasilitas
kilang, gudang, atau kapal. Persepsi yang hidup di bursa itu berbeda
dengan angka riilnya. Lord Browne, mantan CEO BP, menandaskan, ?Tidak
ada indikasi kelangkaan. Naiknya harga tidak berhubungan dengan
suplai-permintaan. ?

Maka, harga minyak pun bergerak-gerak seperti harga saham. Secara
empiris, semua ini hanya bisa ditangkal NOC dengan membentuk oil trader
yang kuat.

Transformasi NOC

Karena kini minyak diperdagangkan trader dan ?spekulator? , penting
mentransformasi tangan-tangan perdagangan NOC. Masalahnya, NOC selalu
sarat belenggu dengan berbagai aturan dan diganggu berbagai kepentingan.
Kalau belenggu-belenggu itu tidak dilepaskan, oil trader tidak bisa
bergerak optimal karena pengambilan keputusannya butuh manuver cepat,
perencanaan matang, jaringan luas, dan manajemen keuangan yang canggih.
Pengawasan perlu, tetapi bukan dengan kecurigaan berlebihan, apalagi
dengan bureaucratic control. Gunakan saja result-based control yang
lazim dipakai perdagangan modern.

Di Indonesia, harus diakui, banyak kemajuan yang dicapai dari
transformasi Pertamina yang didasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2001. Namun, kemajuan itu mahal pengakuan karena banyak kepentingan
terusik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kalau Pertamina kuat, misalnya, tidak ada ruang bagi tangan-tangan
perdagangan asing yang mengincar pasar-pasar gemuk di kota-kota besar.
Mereka akan berjuang mengarahkan Pertamina agar mengurus pasar di
pinggiran saja yang ongkos kirim BBM-nya lebih mahal dengan menunjukkan
NOC Indonesia ini kalah bersaing karena tidak efisien.

Di negara yang politiknya kondusif, NOC-nya berhasil memutasikan DNA oil
trader-nya. Aramco, misalnya, melakukan penetrasi ke Amerika dengan
jaringan SPBU Motiva. Petronas membeli jaringan SPBU di Afrika Selatan,
Petrobras (Brasil) mengembangkan eksplorasi laut dalam bersama Statoil
(Norwegia), dan NIOC (Iran) keuangannya beroperasi di New Jersey dan
Swiss.

Untuk menangkal spekulator, NOC memodernkan tangan- tangan oil
trading-nya. PETCO (milik Petronas), NICO (milik NIOC-Iran), Saudi
Petroleum International (Saudi Aramco), Sonatrach Petroleum
International (Sonatrach, Aljazair), Q8 (Kuwait), dan Petral (Pertamina)
mengalami overhaul.

Oil Trading Company itu ditaruh di pusat perdagangan dunia dan serius
melawan broker yang dulu dikuasai para kroni. Mereka juga
bertransformasi dari buying agent menjadi trader modern.

Wajah baru ?trader? minyak

Jelaslah kesejahteraan kini sudah tidak bisa dipungut begitu saja dari
perut bumi. Sebagai big consumer, Indonesia bisa sejahtera melalui
Pertamina asalkan Petral dipertajam perannya dengan melakukan transaksi
jangka panjang untuk pasar domestik, tetapi juga melakukan penetrasi
global, kerja sama dengan pemilik kilang mancanegara, swap produksi, dan
sebagainya. Adaptasi diperlukan untuk menghadapi wajah perdagangan yang
sudah berubah.

Ia butuh fleksibilitas dan kepercayaan. Dan, karena financing-nya
kompleks, butuh pemahaman tingkat tinggi, konsensus politik, dan status
?Approved Oil Trader? yang dikeluarkan otoritas perdagangan dunia.

Sepengetahuan saya, Petral sudah memilikinya, bahkan mulai kembali
dipercaya bank asing. Jadi, Petral berpotensi memperoleh competitive
price untuk konsumen Indonesia asalkan diberi kepercayaan lebih. Tanpa
itu, hanya ada kecurigaan dan rakyat semakin menderita.

Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia

RZF / Kompas.com

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: