Elektrojoss

July 6, 2007

Budaya orang Indonesia menurut orang Jepang

Filed under: Uncategorized — elektrojoss @ 12:39 am

Prof Nagano, staf pengajar Nihon University memberikan kuliah
intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima
University.

Beliau sering menjadi konsultan pertanian di negara-negara Asia
termasuk Indonesia. Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau
utarakan sewaktu membahas tentang Indonesia:

1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam.
Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan
konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian
diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling
benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya
program tersebut sebetulnya baik.

2. Budaya Jam Karet
Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang
asing yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang
menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab :
Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah
sebegitu parahkah disiplin kita?

3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)
Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa
ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya
sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia
mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.

4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan
Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para
petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari
lengkap padahal beliau sudah datang dengan work wear beserta sepatu
boot.
Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke
lapang, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang
berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat
sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau
turun langsung ke lapangan.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina-
bobokan oleh istilah indonesia kaya,masyarakatnya suka gotong royong,
ada pancasila,agamanya kuat, dan lain-lain.Dan itu hanyalah istilah,
kenyataannya bisa kita lihat sendiri.

Ternyata negarakita hancur-hancuran, bahkan susah
untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara
seperti Korea, bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan
istilah tanpa action. Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide,
kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum
apa-apa sudah ramai duluan.

Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurang an kita
dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum
terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya
sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap
terbelakang disegala bidang.
Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua,
terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu
merubah diri untuk menjadi yang lebih baik.

By: Ahmad Darobin Lubis, Graduate School for International
Development and Cooperation (IDEC) Hiroshima University

3 Comments »

  1. Ngga ditambah lagi ?
    – Suka mencari kejelekan diri sendiri.
    – Bahkan bisa bangga kalau menemukan kejelekan diri sendiri, menyebarkan dan mengatakan orang yg ngga stuju dengan kejelekan tersebut sbagai orang yang nasionalismenya sempit !
    sich ;(

    Comment by Rovicky — July 12, 2007 @ 10:43 pm | Reply

  2. artikel ini tidak ada hubungannya dengan nasionalisme yang sempit. Justru orang yang berpandangan demikianlah yang sempit nasionalisme nya🙂 .
    KENAPA ? karena dia selalu merasa dirinya BENAR. Tidak bisa menerima kritik yang membangun. Artikel ini muncul pertama kali di milis alumni ITB, dan di sana sama sekali tak ada orang yang berpandangan negatif seperti ini. Sebab semua sadar bahwa inilah kelemahan kita yang harus dicarikan solusi untuk “mendobraknya”. Mengikis sendi-sendi sosial yang destruktif. Mana bisa seseorang memperbaiki diri-nya tanpa mengetahui kelemahannya? Apalagi bagi orang yang sudah merasa dirinya “hebat”, pendidikan tinggi, punya segudang prestasi, atau afiliasi ke berbagai organisasi keahlian,memang sulit manusia itu menyadari kesalahannya..tulisan di atas disebarluaskan supaya kita bisa interospeksi diri, banyak bercermin dan bisa mencarikan solusi pemecahannya. Berfikirlah positif dan jangan malah jadi provokator…

    Comment by sutomo — July 17, 2007 @ 1:09 am | Reply

  3. rovicky perlu baca paragraph terakhir berulang-ulang :
    Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurang an kita
    dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum
    terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya
    sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap
    terbelakang disegala bidang.
    Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua,
    terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu
    merubah diri untuk menjadi yang lebih baik. —> di sini intinya, jadi jangan berfikir negatif dulu

    Comment by sutomo — July 17, 2007 @ 1:19 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: