Elektrojoss

June 19, 2007

Untirta Dan Tantangan Lokal

Filed under: News — elektrojoss @ 10:31 am

Pilrek (Pemilihan calon Rektor) Untirta periode 2007-2011 tahap kedua sudah dilaksanakan pada 21 Desember 2006. Setelah fit and proper test oleh tim penguji (kalangan akademik, alumni dan dewan penyantun Untirta, DPRD dan Pemprov Banten), Senat Untirta memutuskan 3 calon rektor (dari 6 calon hasil pilihan civitas akademika) yang diajukan ke Mendiknas RI. Ketiga calon itu: Prof. Dr. Rahman Abdullah, M.Sc., Prof. Dr. Ahmad Hufad, M.Pd., dan Prof. Dr. Sugiyanto, M.Sc.

Lalu apa yang dapat dipetik dari pengalaman demokrasi di kampus tersebut? Pertama, partisipasi pemilih kurang menggembirakan karena hanya sekitar 40 % dari jumlah seluruh pemilih tetap. Ada banyak dugaan dalam hal ini: mungkin dosen, staf administrasi, dan terutama mahasiswa kurang peduli terhadap pergantian kepemimpinan Untirta, bahkan mungkin tidak peduli dengan perkembangan keseluruhan.
Tentu ada pula sebab lain. Katakanlah sikap apatis masyarakat mengingat pemimpin kita, baik di pemerintah maupun pendidikan, sering tidak peduli pada arus bawah karena sibuk dengan jabatan dan kekuasaannya. Di sisi lain lagi, arus globalisasi dan kapitalisme menyeret manusia menjadi sekadar konsumen (korban iklan) yang pada gilirannya menyalahgunakan kekuasaan agar dapat membeli produk industri yang penuh dengan godaan. Dalam situasi itu, publik hanya disapa ketika pemimpin membutuhkan mereka sebagai anggunan politik dan kekuasaannya.
Hal di atas tentu berdampak pada menurunnya kualitas pemimpin kita. Kita tahu negeri ini sekarang masih mengalami banyak krisis dan salah satu pangkalnya kepemimpinan. Masyarakat merindukan pemimpin cerdas dan amanah yang mendedikasikan dirinya untuk rakyat. Sayangnya kerinduan itu berhenti sebatas kerinduan di tengah gelimang sampah politik dan kekuasaan.
Kemungkinan terakhir, mungkin peran PPCR (Panitia Pemilihan Calon Rektor) dan seluruh unit di Untirta dalam menyosialisasikan pentingnya Pilrek kurang maksimal. Di luar itu, PPCR tentu layak dipuji karena telah bekerja jujur dan adil, sekurang-kurangnya tidak terjadi penyalahgunaan wewenang, seperti terjadi di KPU/ KPUD dalam Pilpres/ Pilkada di negeri ini.
Kedua, patut dicatat pemilih Pilrek Untirta telah menunjukkan sikap objektif dan berorientasi masa depan. Terpilihnya seorang profesor dengan jumlah suara jauh melampaui pesaing lainnya di tahap pertama adalah bukti warga Untirta menaruh hormat terhadap kewibawaan akademik. Pilpres dan Pilkada boleh saja mengabaikan kewibawaan akademik, tapi tidak dalam pemilihan rektor. Itu sebabnya 3 profesor mendapatkan suara signifikan dalam pemilihan tahap kedua yang dilakukan anggota senat Untirta.
Ketiga, boleh pula kita acungi jempol sikap dan perilaku para calon rektor selama dan sesudah pemilihan baik di tahap pertama maupun kedua. Mereka lapang dada menerima kenyataan yang terjadi. Keinginan dan keberanian mereka mencalonkan diri sebagai rektor Untirta harus dihormati sebagai keinginan membangun Untirta sekaligus mengetahui suara warga Untirta.

UNTIRTA DI MASA DEPAN
Semua visi misi calon rektor dapat dikatakan elok untuk dibaca. Masalahnya bagaimana visi misi itu turun tahta menjadi sosok nyata di semua unit Untirta. Dan untuk menjadikan Untirta sebagai kampus berwibawa, berdaya, dan mampu bersaing di tingkat nasional/ internasional, berikut saya sampaikan beberapa butir sebagai saran untuk direalisasi.
Pertama, sebagai lembaga pendidikan (bukan lembaga ekonomi atau politik), Untirta selayaknya bertindak berdasarkan norma dan logika ilmu dan pendidikan. Karena ruh ilmu atau pendidikan itu buku, adalah logis jika perpustakaan Untirta dijadikan fondasi Untirta: belanja buku harus menjadi prioritas utama, didukung kegiatan-kegiatan kampus yang berbasis perpustakaan. Karena Untirta memiliki lebih dari 8.000 mahasiswa, harus dibayangkan bagaimana jika dalam sehari 10% saja (800 orang) mahasiswa membaca di perpustakaan. Pertanyaannya adalah: tersediakah buku untuk 800 mahasiswa dalam sehari? Memadaikah sarana, fasilitas, dan tenaga perpustakaan untuk melayani mereka?
Kedua, peningkatan kualitas dosen dan tenaga administrasi tentu hal yang niscaya, selain sarana dan fasilitas yang hingga kini memang belum sempurna. Prinsip the singer is important, not only the song tak bisa tidak akan berperan besar dalam memajukan Untirta. Dengan kata lain seorang koki yang mumpuni akan sanggup memasak jenis makanan apapun menjadi lezat dan bergizi tinggi.
Ketiga, soal manajemen (akademik, kemahasiswaan, kepegawaian, keuangan, koordinasi universitas-fakultas-jurusan, dan sebagainya). Sumber daya manusia, perpustakaan, dan fasilitas lainnya, tidak akan berarti jika manajemen kampus mirip manajemen tukang cukur di bawah pohon yang semuanya dilakukan sendirian. Dengan lain perkataan sebagai sebuah struktur, semua unit harus bergerak sesuai tugas dan fungsinya.
Keempat, kekayaan lokal Banten dan daya saing Untirta di masa depan. Hampir semua visi misi calon rektor menyebut kata daya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional. Itu tandanya kesadaran untuk bersaing sudah merata. Namun apa yang akan dipersaingkan? Pada titik inilah Untirta menghadapi tantangan berat. Sebagai kampus baru, Untirta harus melangkah 5 kali jika UI, ITB, UGM melangkah 2 kali. Sekurang-kurangnya jika UI, UGM, ITB melangkah 3 kali ya Untirta melangkah 3 kali juga. Dengan demikian tahun demi tahun Untirta tidak jauh tertinggal oleh mereka.
Dalam konteks ini sesungguhnya Untirta memiliki peluang besar. Sebagai wilayah yang masih perawan, Banten memiliki kekayaan lokal yang berlimpah. Banten selatan (Lebak dan Pandeglang misalnya) memiliki area pertanian, kehutanan, kelautan, dan pariwisata. Begitu pula dengan pesisir utara yang berbasis kelautan dan dunia nelayan, Tangerang, Serang, dan Cilegon adalah basis industri dan perdagangan internasional. Dalam pada itu kita memiliki kekayaan moral/ intelektual berupa tradisi dan sejarah besar di masa lampau yang sering dijadikan rujukan dalam mengokohkan identitas Banten.
Dalam konteks ini Untirta harus bekerjasama serius dengan dinas-dinas di Pemprov Banten karena kita memiliki kepentingan sama: Bagaimana Untirta dan Banten eksis di tingkat nasional dan internasional! Salah satu jalan keluarnya intensifkan pusat kajian yang ada di Untirta dan bentuk pusat kajian yang belum ada. Pusat-pusat kajian tersebut tidak hanya untuk menggarap proyek pemerintah dan melayani industri, melainkan melakukan investasi (eksperimen akademis) yang memang mengeluarkan banyak dana.
Ada jenis penelitian yang langsung menguntungkan Untirta, tetapi harus dikembangkan pula penelitian yang bersifat investasi jangka panjang, misalnya penelitian-penelitian kebudayaan yang tidak pragmatis belaka.
Ada banyak peluang, tapi tidak sedikit tantangan. Rektor terpilih harus segera memperlihatkan tanda dan bukti nyata untuk melakukan perubahan, meski perubahan tidak harus sampai tergesa-gesa. Seperti pepatah bijak KH Hamzanwadi dari Lombok, “jangan terlalu cepat, nanti terlambat, jangan tergesa-gesa, nanti tersiksa.” Akan tetapi tentu bukan berarti kita menganut paham “alon-alon asal kelakon”. Rektor Untirta nanti harus bekerja sistematis dan terukur dengan sikap jujur, adil, amanah, dan menempatkan diri sebagai “pelayan” warga Untirta agar maju bersama-sama.

Dosen FKIP dan Sekretaris Forum Perubahan Untirta (Radarbanten)

3 Comments »

  1. Asikk…untirta bakal punya rektor baru…Senang ya masih ada orang-orang yang dengan semangat tinggi (bahkan dengan tanpa mengukur kapabilitas diri) berkompetisi memperebutkan posisi Untirta 1. Saya sendiri kok ya malas bin sebal mengurusi birokrasi untirta yang (buat saya) sama sekali tidak membuat cerdas, membodohkan dan membuat lenyap rasa kemanusiaan pelakunya (baca : birokat), sehingga dengan sukacita, di perjalanan ke tiga tahun masa bakti, saya kemudian memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta.

    But eniwey, baydewey, baswey…saya mau kasih selamat ah buat siapapun rektor Untirta terpilih nanti…Anda orang hebat Bung! Berani mengambil resiko untuk memimpin kumpulan birokrat hipokrit di Untirta. Tugas yang sama sekali jauh dari mulia…Selamat..selamat..Udah. Gitu aja….

    Comment by Pak Jaiz FISIP Untirta — July 3, 2007 @ 9:50 am | Reply

  2. prmslhan di unirta msh trus brlngsung. 8 bln stlh pilrek, hslnya belum da. Bgt pula dgn pilpresma. Saat ini untirta tdk mmpnyai presma, yg da hnyalah presidium (pmrinthn brsma) yg dpmpn 9 org. Apkh da korelasiny antr pilrek dan pilpresma??

    Comment by garda untirta — August 17, 2007 @ 9:13 pm | Reply

  3. KLo dipikir2…ci orang serang itu serakah dengan jabatan, termasuk juga mahasiswanya yang gila jabatan presma…..!
    buat apa kita ributin msl presma, kan ga da gajinya to…mendingan kita berpikir gimana untirta kedepan, setelah terpilihnya rektor baru….!
    beda dengan mahasiswa cilegon yang pengen dengan kemajuan, dan membawa nama untirta ke kanca nasional itu baru namanya mahasiwa…!
    giaman mau maju untirta, klo mikirnya itu2 aja…!
    mas…mb…bapak2…ibu2….untirta itu udah negeri…jangan dipermainkan/diobok2 terus tu kampus..!

    Comment by nak untirta — September 14, 2007 @ 1:44 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: