SERANG – Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Turtayasa Banten di depan kampus mereka di Jalan Raya Serang-Jakarta, kilometer 4 Serang, berakhir ricuh. Mereka menolak kedatangan Wakil Presiden Boediono dan sejumlah menteri yang menggelar peringatan sumpah pemuda di lapangan pusat pemerintahan Propinsi Banten, Rabu (28/10).
Kericuhan terjadi saat mahasiswa memaksa berunjuk rasa keluar kampus menuju jalan raya yang dilintasi Boediono dan sejumlah menteri tersebut. Saat mahasiswa keluar kampus dan menggelar orasi di jalan raya, sejumlah polisi yang menjaga ketat acara itu langsung memukuli mahasiswa dengan pentungan. Bahkan beberapa diantara polisi menendang mahasiswa hingga mereka kembali masuk kedalam kampus.
Akibat kericuhan tersebut 12 mahasiswa terluka, bahkan lima diantaranya harus dirawat karena menderita luka serius. Diantara mahasiswa yang mengalami luka parah adalah Lulu Adiyatmo (mahasiswa Fisip semester V Untirta), Danang (mahasiswa Fisip semester I), Haedi (mahasiswa Fisip semester V), Carlos mahasiswa Fakultas Hukum semester I) dan Ilham (mahasiswa Fakultas Hukum semester III). Umumnya mereka menderita luka dibagian kepala, tangan dan kaki akibat benturan benda tumpul.
Ketua Koordinator Mahasiswa Untirta Banten, Arfan Hamdani mengatakan, seluruh mahasiswa yang menjadi korban anarki polisi itu sedang dalam perawatan rumah sakit DKT Serang, “Sedang divisum dan perawatan intensif,” ujar Arfan.
Setelah divisum, kata Arfan, pihaknya akan menempuh proses hukum dan menuntut polisi bertanggung jawab atas kekerasan tersebut, “Kami tidak terima perlakuan kasar polisi kepada kami, padahal kami hanya berunjukrasa didalam kampus,” katanya.
Menurut Arfan, aksi demo yang digelar mahasiswa sebenarnya biasa saja, namun perlakuan polisi berlebihan. Dalam aksinya mereka meminta agar Wakil Presiden Boediono mencabut Undang-undang Badan Hukum Pendidikan sebagai produk liberalisasi pendidikan di Indonesia selain itu mahasiswa juga menuntut pencabutan out sourching bagi buruh yang mengakibatkan menurunnya kesejahteraan buruh dan keluarganya.
Sampai dengan berita ini dikirim ke redaksi, Rabu siang (28/10) pukul 15.00 WIB, belum ada konfirmasi mendetil dari kepolisian tentang aksi unjukrasa yang anarki yang terjadi di depan kampus Untirta itu.
http://e-banten.com